Jakarta (ANTARA) - Kasus child grooming kembali menjadi sorotan dan viral di berbagai platform media sosial dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena ini mengingatkan banyak orang tua bahwa ancaman terhadap anak tidak selalu datang dari orang asing, melainkan bisa berasal dari lingkungan terdekat dan tampak aman.
Child grooming merupakan upaya terencana yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional dan kepercayaan anak, dengan tujuan memanipulasi serta mengeksploitasi mereka.
Di tengah maraknya penggunaan gawai dan media sosial oleh anak, sikap waspada orang tua menjadi kunci utama pencegahan.
Memahami apa itu child grooming sekaligus mengetahui sikap yang tepat untuk mengantisipasi pelakunya sangat penting agar orang tua mampu melindungi anak sejak dini dan tidak terlambat menyadari tanda-tanda yang muncul.
Berikut sejumlah sikap kewaspadaan yang perlu dicurigai dari tanda-tanda pelaku child grooming pada anak.
Poin-poin ini dirangkum dari berbagai sumber dan menjadi langkah penting untuk melindungi anak di masa pertumbuhannya.
Tanda-tanda pelaku ancaman child grooming
Mengenali pelaku child grooming memang bukan perkara mudah. Dalam banyak kasus, pelaku justru berasal dari lingkungan terdekat dan sudah dipercaya keluarga.
Karena itu, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan apabila ada orang dewasa di sekitar anak yang menunjukkan perilaku-perilaku tertentu berikut ini, terutama jika terjadi secara berulang dan terasa tidak wajar.
Meski tidak semua orang di sekitar anak memiliki niat buruk, orang tua tetap perlu bersikap lebih berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. Langkah ini bukan bentuk kecurigaan berlebihan, melainkan upaya perlindungan. Berikut beberapa tanda-tanda jika ada pelaku child grooming pada anak.
1. Sering memberikan hadiah kepada anak dan keluarga
Pemberian hadiah yang terlalu sering atau berlebihan patut dicurigai, terlebih jika tidak ada alasan jelas. Tindakan ini kerap digunakan pelaku untuk mengambil hati anak sekaligus membangun rasa ketergantungan emosional.
2. Menunjukkan perhatian berlebihan terhadap aktivitas anak
Pelaku biasanya tampak sangat antusias mengikuti keseharian anak, mulai dari kegiatan sekolah hingga hobi pribadi. Perhatian yang terlalu intens ini bertujuan untuk menciptakan kedekatan dan membuat anak merasa istimewa.
3. Melanggar batas sosial yang seharusnya
Misalnya sering datang ke rumah tanpa keperluan jelas, hadir di acara keluarga meski tidak diundang, atau berusaha selalu berada di sekitar anak. Perilaku ini dapat menjadi tanda pelaku ingin memperkuat kontrol dan kedekatan dengan korban.
4. Sering melakukan kontak fisik
Sentuhan seperti mengelus kepala, memeluk, memangku, atau memegang anak yang dilakukan berulang kali dan tanpa persetujuan patut diwaspadai. Kontak fisik ini sering digunakan untuk mengaburkan batasan antara perilaku wajar dan tidak pantas.
5. Menawarkan bimbingan atau pengasuhan dengan cara yang tidak wajar
Tawaran membantu belajar, mengasuh, atau menemani anak perlu diperhatikan jika dilakukan secara berlebihan atau tanpa melibatkan orang tua. Hal ini bisa menjadi cara pelaku untuk mendapatkan akses lebih dekat dan privat dengan anak.
Agar situasi tidak berkembang lebih jauh, orang tua perlu membekali anak dengan pemahaman tentang batasan dalam bersosialisasi. Anak harus mengetahui bagian tubuh mana yang tidak boleh disentuh orang lain serta siapa saja yang diperbolehkan membantu, misalnya dalam konteks medis dengan pendampingan orang tua.
Selain itu, dorong anak untuk berani bercerita apabila mengalami pengalaman yang membuatnya tidak nyaman, seperti mendengar lelucon bernuansa seksual, melihat konten pornografi, atau mendapatkan perlakuan tidak pantas dari orang dewasa.
Perlu dipahami bahwa banyak anak tidak menyadari dirinya sedang menjadi korban child grooming. Oleh karena itu, ketika anak mulai terbuka dan menceritakan pengalamannya, orang tua harus merespons dengan sikap tenang dan penuh empati.
Baca juga: Men-PPPA soroti pentingnya edukasi relasi kuasa respon kasus Gus Elham
Baca juga: Keluarga Kim Sae Ron tuntut permintaan maaf Kim Soo Hyun
Baca juga: Tips hangatkan makanan sahur hingga uji ketahanan Oppo A5 Pro direbus
Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·