Ilustrasi(freepik)
BANYAK perempuan pernah mengalami satu hal yang terasa janggal: aliran darah haid seolah berhenti atau berkurang setelah keramas atau mandi. Pengalaman ini kemudian melahirkan kepercayaan lama bahwa mencuci rambut saat menstruasi bisa membuat haid “mandek”. Meski terdengar masuk akal bagi sebagian orang, dunia medis menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Namun, kenapa sensasinya bisa terasa nyata?
Persepsi yang Terbentuk di Kamar Mandi
Dokter dan peneliti kesehatan reproduksi menyebut, perasaan haid berhenti setelah keramas lebih berkaitan dengan persepsi tubuh, bukan perubahan biologis. Saat mandi, posisi tubuh yang berdiri tegak membuat darah menstruasi tidak langsung keluar, berbeda ketika duduk atau berbaring. Akibatnya, perempuan merasa aliran darah tiba-tiba menghilang.
Selain itu, air yang mengalir di tubuh dan fokus saat membersihkan diri membuat seseorang kurang menyadari keluarnya darah. Bukan berhenti, tapi tidak terasa.
Menstruasi Diatur Hormon, Bukan Air
Secara medis, menstruasi terjadi karena penurunan hormon estrogen dan progesteron yang memicu luruhnya lapisan dinding rahim. Proses ini berjalan otomatis dan tidak bisa dipengaruhi oleh aktivitas eksternal seperti mandi, keramas, atau suhu air.
Sejumlah artikel medis dan jurnal kesehatan internasional menegaskan tidak ada jalur fisiologis yang menghubungkan keramas dengan terhentinya aliran darah haid. Rambut, kulit kepala, dan rahim bekerja di sistem yang sama sekali berbeda.
Dengan kata lain, seberapa sering pun seseorang keramas, siklus haid tetap berjalan sesuai ritme hormon tubuhnya.
Mitos Lama yang Bertahan
Kepercayaan tentang larangan keramas saat haid banyak ditemukan dalam budaya Asia dan beberapa wilayah lain. Biasanya dikaitkan dengan anggapan air dingin bisa “membekukan” darah atau mengganggu keseimbangan tubuh perempuan.
Penelitian tentang mitos menstruasi menunjukkan, larangan ini termasuk salah satu kepercayaan paling umum yang diwariskan turun-temurun, meski tidak didukung bukti ilmiah. Sayangnya, mitos semacam ini sering membuat perempuan mengabaikan kebersihan diri saat menstruasi.
Justru Dianjurkan Menjaga Kebersihan
Ahli kesehatan justru menyarankan mandi dan keramas secara rutin saat haid. Menstruasi membuat tubuh lebih lembap dan berkeringat, sehingga kebersihan yang buruk bisa memicu gatal, bau tidak sedap, hingga iritasi kulit.
Keramas tidak akan memperparah nyeri haid, tidak menghentikan darah, dan tidak mengganggu kesehatan reproduksi.
Hal yang Sangat Wajar Terjadi
Merasa haid berhenti setelah keramas adalah ilusi yang wajar, tapi bukan fakta medis. Aliran darah bisa terasa berkurang sementara karena posisi tubuh dan persepsi, bukan karena proses menstruasi benar-benar berhenti.
Mitos boleh bertahan sebagai cerita, tapi keputusan soal kesehatan sebaiknya tetap berpijak pada penjelasan medis. Keramas saat haid aman, normal, dan justru bagian dari perawatan diri yang sehat.
Sumber: Medical Dialogues, Healthline

1 day ago
3





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·