Aurelie Moeremans mendadak jadi sorotan setelah merilis memoar Broken Strings yang membongkar pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming.(Dok. Unesa)
AKTRIS Aurelie Moeremans mendadak jadi sorotan setelah merilis memoar Broken Strings yang membongkar pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming. Mengutip Media Indonesia, buku yang rilis 10 Oktober 2025 itu viral karena mengungkap bagaimana seorang pria dewasa berpengaruh diduga membangun kontrol lewat manipulasi yang dibungkus “kedekatan”.
Mengenali Pola Child Grooming: Halus, Sistematis, dan Mengikat
Psikiater Lahargo Sportmono, menjelaskan, child grooming adalah strategi manipulatif orang dewasa untuk membangun ikatan emosional dengan anak/remaja demi tujuan eksploitasi. Polanya jarang meledak di awal, justru pelan, rapi, dan konsisten, membuat korban sering tak sadar sedang diarahkan ke hubungan yang tidak sehat.
Ciri-ciri yang kerap muncul:
- Perhatian berlebih dan intens, seolah “paling mengerti”.
- Hadiah atau bantuan rahasia, yang kemudian jadi “utang emosional”.
- Isolasi sosial, menjauhkan korban dari teman/keluarga.
Pelaku memosisikan diri sebagai mentor/pelindung spesial, menciptakan ilusi “hubungan unik” yang terasa sah secara emosional.
Dampak Psikologis
Mengutip UNESA Science Education, kisah Aurelie menyorot dampak yang tidak selesai dalam semalam, trauma berkepanjangan dan rasa bersalah yang sering, dan keliru, ditanggung korban. Remaja perempuan disebut rentan karena berada dalam fase pencarian jati diri, sehingga mudah “dikunci” lewat validasi emosional semu.
Buku ini sekaligus jadi alarm bagi orang tua, waspadai perubahan pada anak, seperti mendadak tertutup, mudah defensif, atau terlalu intens berhubungan dengan orang dewasa tertentu. Para ahli menegaskan, grooming bukan “romansa beda usia”, ini kekerasan yang dirancang, dengan pola kontrol yang bertahap.
Efek Domino
Lewat Broken Strings, Aurelie diharapkan ikut memutus stigma yang selama ini sering menyudutkan korban dalam kasus pelecehan. Keputusan membagikan pengalaman traumatisnya dipandang sebagai langkah berani untuk mendorong publik lebih peka terhadap keselamatan anak, baik di ruang nyata maupun digital.
Hingga kini, diskusi soal buku tersebut terus meluas di media sosial dan memicu lebih banyak penyintas untuk berani bersuara. Di tengah predator yang makin adaptif, kesadaran kolektif jadi benteng pertama. (Media Indonesia; UNESA Science Education; Instagram @aurelie/Z-10)

10 hours ago
3





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·