Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (20/11).(MI/Ihfa Firdausya)
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan program penempatan dana pemerinah Rp200 triliun di perbankan menunjukkan impresi dampak yang baik. Hingga 31 Oktober, penempatan Rp200 triliun di Himbara dan BSI telah disalurkan dalam bentuk kredit sebesar Rp188 triliun.
Pada 10 November 2025, pemerintah kembali menempatkan dana Rp76 triliun di BRI, Mandiri, BNI, dan Bank DKI. Tiap bank mendapat tabungan Rp25 triliun untuk bank Himbara, dan Rp1 triliun untuk Bank DKI.
Untuk bank Himbara, bank yang menerima dana tersebut yaitu Bank Mandiri, BRI, BNI, dan Bank DKI sebagai komitmen menjaga likuiditas dan transmisi kredit yang optimal.
"Jadi kita lihat tadinya base money tumbuh 13,3%, di bulan Oktober turun sedikit ke 7,8%. Jadi kita pikir mungkin perlu didorong lagi kita masukkan lagi Rp76 triliun. Setelah penempatan tersebut, likuiditas domestik menguat, terbukti dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang stabil di 11,5% dan pertumbuhan kredit yang solid di 7,4% pada bulan Oktober," papar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (20/11).
Namun, katanya, dampak penuh dari bertambahnya likuiditas itu perlu 2-3 bulan sejak uang itu diinjeksikan.
"Jadi baru kita lihat impact penuhnya mungkin di Desember, Januari. Tapi yang jelas sekarang DPK-nya sudah tumbuh 20 digit, kredit juga sudah membaik, apalagi kredit investasi. Tujuan penempatan dana tersebut untuk menjaga biaya dana rendah agar tercapai," kata Purbaya.
Ia pun menunjukkan suku bunga deposito 6 bulan turun signifikan dari 6% menjadi 5,2% pada September 2025. Penurunan ini diharapkan diteruskan kepada masyarakat melalui suku bunga kredit tertimbang.
"Data per Oktober 2025 menunjukkan suku bunga kredit tertimbang berada di 9%, turun dari 9,12% pada bulan Juli. Ini memberi indikasi bahwa intervensi pemerintah berhasil mendorong penurunan cost of fund untuk mendukung aktivitas investasi dan konsumsi," ungkap Purbaya.
Menkeu juga menyampaikan, optimisme masyarakat untuk konsumsi dan produksi mulai membaik. Belanja masyarakat disebut terus menguat, peningkatan belanja terjadi di berbagai kategori, terutama bahan tahan lama atau durable goods.
"Di sektor riil, per Oktober, penjualan motor tumbuh 8,4%. Sementara mobil menunjukkan perbaikan. Memang masih minus 4,4% tapi ini minusnya sudah makin berkurang dibanding bulan-bulan sebelumnya," tutur Purbaya.
"Jadi hitungan kita kalau ini dijaga terus ini akan mulai positif di bulan-bulan mendatang mungkin November, Desember akan positif," imbuhnya.
Dari sisi produksi, sektor manufaktur ekspansif dengan PMI manufaktur di level 51,2. Angka itu, kata Purbaya, mengindikasikan peningkatan output dan permintaan baru.
Selain itu, lanjutnya, masyarakat semakin optimistis melihat kondisi ekonomi ke depan dengan indeks ekspektasi ekonomi di 133,4. Secara keseluruhan, tingginya optimisme dan produksi ekspansif menjadi fondasi kokoh pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Ifa/E-1)

1 month ago
21





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·