Abdul Kohar Direktur Pemberitaan Media Indonesia(MI/Seno)
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar. Dalam proses panjang itulah jurnalisme menemukan posisinya. Jurnalisme bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan juga penjaga kesadaran kolektif.
Di usia ke-56, hari ini, Media Indonesia (Teuku Yousli Syah mendirikan harian ini pada 19 Januari 1970) berada pada simpul sejarah penting, yakni mengemban tugas merawat peradaban sekaligus keharusan beradaptasi dengan perubahan zaman yang kian cepat. Sejak awal kelahirannya, jurnalisme, termasuk kami, memikul mandat moral menyampaikan kebenaran, memberi makna pada fakta, dan menghadirkan informasi yang memungkinkan publik mengambil keputusan secara rasional.
Dalam konteks ini, jurnalisme tidak hanya berurusan dengan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa itu penting bagi publik. Di situlah jurnalisme berperan sebagai fondasi peradaban. Ia membangun ruang dialog, memperkuat akal sehat, dan mencegah masyarakat terjerumus ke dalam kebisingan tanpa makna.
Jurnalisme, sebagaimana 'amanat' Jurgen Habermas, adalah arena diskursus rasional tempat publik membahas kepentingan bersama. Jurnalisme berfungsi menjaga kualitas komunikasi publik agar tidak direduksi menjadi propaganda atau komoditas pasar. Ketika media tunduk sepenuhnya pada kepentingan ekonomi dan politik, peradaban demokratis terancam.
LANSKAP MEDIA BERUBAH
Kini, zaman berubah. Lanskap media tidak lagi sederhana. Arus informasi bergerak tanpa saringan, media sosial melahirkan banjir opini, dan kebenaran kerap kalah cepat jika dibandingkan dengan sensasi. Otoritas tidak lagi ditentukan oleh proses verifikasi, tapi oleh jumlah likes dan shares. Dalam situasi seperti itu, posisi jurnalisme justru diuji, apakah ia ikut hanyut dalam arus atau berdiri sebagai penanda arah.
Apalagi, masyarakat modern digambarkan Zygmunt Bauman sebagai liquid society. Masyarakat yang menurut Bauman serbacepat, dangkal, dan mudah berubah. Dalam kondisi ini, jurnalisme berisiko terjebak dalam informasi instan kering makna. Maka, pada kondisi seperti itu, peran jurnalisme dalam perspektif Bauman ialah memperlambat arus, memberi refleksi, dan membantu manusia memahami kompleksitas hidup modern, bahkan masyarakat post-truth. Jadi, jurnalisme adalah merawat peradaban.
Merawat peradaban di era digital berarti menjaga nalar publik dari erosi. Jurnalisme dituntut tetap setia pada prinsip-prinsip dasarnya, yakni akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi. Ketika godaan untuk menjadi serbacepat dan dangkal begitu besar, konsistensi atas prinsip-prinsip dasar itu menjadi nyawa. Kecepatan memang penting, tetapi ketepatan jauh lebih menentukan. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh kabar yang paling cepat, tapi oleh informasi yang paling dapat dipercaya.
JURNALISME SERIUS
Di sinilah Media Indonesia memiliki tanggung jawab historis. Sebagai media yang lahir dari tradisi jurnalisme serius (sebagaimana visi dan misi peletak dasar-dasar harian ini, Surya Paloh, pada 1987), Media Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya di tengah disrupsi. Adaptasi teknologi adalah keniscayaan, tetapi nilai jurnalistik tidak boleh ditawar. Platform boleh berubah, format boleh berganti, tetapi komitmen pada kepentingan publik harus tetap menjadi jangkar.
Beradaptasi dengan perubahan zaman bukan berarti menyerah pada logika algoritma semata. Jurnalisme tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh apa yang viral, tapi oleh apa yang relevan dan berdampak. Isu-isu kebangsaan, keadilan sosial, lingkungan, pendidikan, dan demokrasi sering kali tidak populer. Akan tetapi, justru di sanalah jurnalisme menjalankan fungsinya sebagai pencerah.
Media yang hanya mengikuti selera sesaat berisiko kehilangan peran strategisnya dalam merawat peradaban. Dalam konteks ini, jurnalisme juga dituntut untuk lebih reflektif. Ia harus mampu membaca perubahan sosial, memahami kegelisahan publik, dan menjelaskannya dengan bahasa yang jernih. Opini, analisis, dan laporan mendalam menjadi semakin penting ketika informasi mentah bertebaran di mana-mana. Jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan menempatkan fakta dalam konteks yang utuh.
TANTANGAN KRISIS KEPERCAYAAN
Tantangan lainnya ialah krisis kepercayaan. Publik kian kritis, bahkan sinis, terhadap media. Kesalahan kecil dapat berujung pada delegitimasi besar. Karena itu, transparansi, koreksi terbuka, dan etika jurnalistik yang ketat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kepercayaan adalah modal utama jurnalisme. Tanpa itu, media kehilangan maknanya.
Di usia ke-56, Media Indonesia tidak hendak sekadar merayakan panjangnya usia, tetapi juga menegaskan kembali peran kami. Jurnalisme yang dirawat dengan integritas akan selalu menemukan relevansinya, betapa pun zaman berubah. Teknologi boleh berkembang, tetapi kebutuhan manusia akan kebenaran tidak pernah usang.
Merawat peradaban adalah kerja panjang, sering kali sunyi, dan tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Namun, justru di sanalah martabat jurnalisme diuji. Ketika media tetap berpihak kepada akal sehat di tengah hiruk pikuk informasi, ketika ia memilih kedalaman daripada sensasi, dan ketika ia konsisten menjaga kepentingan publik, maka jurnalisme telah menjalankan tugas peradabannya.
PERJALANAN PANJANG
Dalam rentang perjalanan 56 tahun, harian ini telah menempuh banyak perjalanan, beragam fase, berbilang era. Meski demikian, napas jurnalisme dan idealisme kami tak berubah. Bagi kami, 'menyembelih keusangan' bukan berarti mengingkari nilai. Kalaupun kini ada yang kami pangkas, itu hanyalah cara, bukan prinsip. Yang kami bongkar ialah format, bukan etika. Kami tetap berpijak pada verifikasi, keberimbangan, dan keberpihakan kepada nalar dan kepentingan publik.
Sejarah telah membuktikan, jurnalisme selalu menemukan jalannya. Ia hidup dari melulu mesin cetak ke layar digital, dari kerap menyajikan kolom panjang ke visual interaktif, dari selalu satu arah ke ruang dialog. Namun, substansinya tetap sama, yakni menghadirkan kebenaran, memberi makna, dan menjaga nalar publik tetap waras.
Pada akhirnya, perubahan zaman bukan ancaman bagi jurnalisme yang berprinsip. Ia adalah tantangan untuk terus relevan tanpa kehilangan arah. Dan, di titik itulah, Media Indonesia, lewat sejarah, pengalaman, dan tanggung jawabnya, bertekad tetap menjadi penunjuk jalan dengan merawat nalar, menjaga peradaban, sekaligus menegaskan bahwa jurnalisme masih, dan akan selalu, penting.

2 hours ago
3





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·