Menjaga Nalar di Perubahan Zaman

2 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Menjaga Nalar di Perubahan Zaman Abdul Kohar Direktur Pemberitaan Media Indonesia(MI/Seno)

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar. Dalam proses panjang itulah jurnalisme menemukan posisinya. Jurnalisme bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan juga penjaga kesadaran kolektif.

Di usia ke-56, hari ini, Media Indonesia (Teuku Yousli Syah mendirikan harian ini pada 19 Januari 1970) berada pada simpul sejarah penting, yakni mengemban tugas merawat peradaban sekaligus keharusan beradaptasi dengan perubahan zaman yang kian cepat. Sejak awal kelahirannya, jurnalisme, termasuk kami, memikul mandat moral menyampaikan kebenaran, memberi makna pada fakta, dan menghadirkan informasi yang memungkinkan publik mengambil keputusan secara rasional.

Dalam konteks ini, jurnalisme tidak hanya berurusan dengan apa yang terjadi, tetapi juga mengapa itu penting bagi publik. Di situlah jurnalisme berperan sebagai fondasi peradaban. Ia membangun ruang dialog, memperkuat akal sehat, dan mencegah masyarakat terjerumus ke dalam kebisingan tanpa makna.

Jurnalisme, sebagaimana 'amanat' Jurgen Habermas, adalah arena diskursus rasional tempat publik membahas kepentingan bersama. Jurnalisme berfungsi menjaga kualitas komunikasi publik agar tidak direduksi menjadi propaganda atau komoditas pasar. Ketika media tunduk sepenuhnya pada kepentingan ekonomi dan politik, peradaban demokratis terancam.

LANSKAP MEDIA BERUBAH

Kini, zaman berubah. Lanskap media tidak lagi sederhana. Arus informasi bergerak tanpa saringan, media sosial melahirkan banjir opini, dan kebenaran kerap kalah cepat jika dibandingkan dengan sensasi. Otoritas tidak lagi ditentukan oleh proses verifikasi, tapi oleh jumlah likes dan shares. Dalam situasi seperti itu, posisi jurnalisme justru diuji, apakah ia ikut hanyut dalam arus atau berdiri sebagai penanda arah.

Apalagi, masyarakat modern digambarkan Zygmunt Bauman sebagai liquid society. Masyarakat yang menurut Bauman serbacepat, dangkal, dan mudah berubah. Dalam kondisi ini, jurnalisme berisiko terjebak dalam informasi instan kering makna. Maka, pada kondisi seperti itu, peran jurnalisme dalam perspektif Bauman ialah memperlambat arus, memberi refleksi, dan membantu manusia memahami kompleksitas hidup modern, bahkan masyarakat post-truth. Jadi, jurnalisme adalah merawat peradaban.

Merawat peradaban di era digital berarti menjaga nalar publik dari erosi. Jurnalisme dituntut tetap setia pada prinsip-prinsip dasarnya, yakni akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan independensi. Ketika godaan untuk menjadi serbacepat dan dangkal begitu besar, konsistensi atas prinsip-prinsip dasar itu menjadi nyawa. Kecepatan memang penting, tetapi ketepatan jauh lebih menentukan. Sebab, peradaban tidak dibangun oleh kabar yang paling cepat, tapi oleh informasi yang paling dapat dipercaya.

JURNALISME SERIUS

Di sinilah Media Indonesia memiliki tanggung jawab historis. Sebagai media yang lahir dari tradisi jurnalisme serius (sebagaimana visi dan misi peletak dasar-dasar harian ini, Surya Paloh, pada 1987), Media Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya di tengah disrupsi. Adaptasi teknologi adalah keniscayaan, tetapi nilai jurnalistik tidak boleh ditawar. Platform boleh berubah, format boleh berganti, tetapi komitmen pada kepentingan publik harus tetap menjadi jangkar.

Beradaptasi dengan perubahan zaman bukan berarti menyerah pada logika algoritma semata. Jurnalisme tidak boleh sepenuhnya ditentukan oleh apa yang viral, tapi oleh apa yang relevan dan berdampak. Isu-isu kebangsaan, keadilan sosial, lingkungan, pendidikan, dan demokrasi sering kali tidak populer. Akan tetapi, justru di sanalah jurnalisme menjalankan fungsinya sebagai pencerah.

Media yang hanya mengikuti selera sesaat berisiko kehilangan peran strategisnya dalam merawat peradaban. Dalam konteks ini, jurnalisme juga dituntut untuk lebih reflektif. Ia harus mampu membaca perubahan sosial, memahami kegelisahan publik, dan menjelaskannya dengan bahasa yang jernih. Opini, analisis, dan laporan mendalam menjadi semakin penting ketika informasi mentah bertebaran di mana-mana. Jurnalisme bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan menempatkan fakta dalam konteks yang utuh.

TANTANGAN KRISIS KEPERCAYAAN

Tantangan lainnya ialah krisis kepercayaan. Publik kian kritis, bahkan sinis, terhadap media. Kesalahan kecil dapat berujung pada delegitimasi besar. Karena itu, transparansi, koreksi terbuka, dan etika jurnalistik yang ketat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Kepercayaan adalah modal utama jurnalisme. Tanpa itu, media kehilangan maknanya.

Di usia ke-56, Media Indonesia tidak hendak sekadar merayakan panjangnya usia, tetapi juga menegaskan kembali peran kami. Jurnalisme yang dirawat dengan integritas akan selalu menemukan relevansinya, betapa pun zaman berubah. Teknologi boleh berkembang, tetapi kebutuhan manusia akan kebenaran tidak pernah usang.

Merawat peradaban adalah kerja panjang, sering kali sunyi, dan tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Namun, justru di sanalah martabat jurnalisme diuji. Ketika media tetap berpihak kepada akal sehat di tengah hiruk pikuk informasi, ketika ia memilih kedalaman daripada sensasi, dan ketika ia konsisten menjaga kepentingan publik, maka jurnalisme telah menjalankan tugas peradabannya.

PERJALANAN PANJANG

Dalam rentang perjalanan 56 tahun, harian ini telah menempuh banyak perjalanan, beragam fase, berbilang era. Meski demikian, napas jurnalisme dan idealisme kami tak berubah. Bagi kami, 'menyembelih keusangan' bukan berarti mengingkari nilai. Kalaupun kini ada yang kami pangkas, itu hanyalah cara, bukan prinsip. Yang kami bongkar ialah format, bukan etika. Kami tetap berpijak pada verifikasi, keberimbangan, dan keberpihakan kepada nalar dan kepentingan publik.

Sejarah telah membuktikan, jurnalisme selalu menemukan jalannya. Ia hidup dari melulu mesin cetak ke layar digital, dari kerap menyajikan kolom panjang ke visual interaktif, dari selalu satu arah ke ruang dialog. Namun, substansinya tetap sama, yakni menghadirkan kebenaran, memberi makna, dan menjaga nalar publik tetap waras.

Pada akhirnya, perubahan zaman bukan ancaman bagi jurnalisme yang berprinsip. Ia adalah tantangan untuk terus relevan tanpa kehilangan arah. Dan, di titik itulah, Media Indonesia, lewat sejarah, pengalaman, dan tanggung jawabnya, bertekad tetap menjadi penunjuk jalan dengan merawat nalar, menjaga peradaban, sekaligus menegaskan bahwa jurnalisme masih, dan akan selalu, penting.

Read Entire Article