Pilkada via DPRD Dinilai Langkah Mundur Demokrasi dan Berisiko bagi Konstitusi

3 days ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Pilkada via DPRD Dinilai Langkah Mundur Demokrasi dan Berisiko bagi Konstitusi ilustrasi(MI)

PERKUMPULAN untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) menolak keras terhadap wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) kepada DPRD. Perludem menilai langkah tersebut sebagai kemunduran besar bagi konsolidasi demokrasi lokal dan ancaman serius terhadap desain ketatanegaraan Indonesia.

Peneliti Perludem, Haykal, menegaskan bahwa Pilkada langsung adalah bagian integral dari kedaulatan rakyat yang telah menjadi praktik konstitusional mapan pasca-amandemen UUD 1945.

"Mengalihkan pemilihan kepala daerah ke DPRD berarti menarik kembali mandat rakyat tanpa dasar konstitusional yang sah. Prinsip pemilihan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil adalah standar yang tidak dapat dinegosiasikan," ujar Haykal melalui keterangannya, Jumat (16/1).

Haykal menilai munculnya wacana ini tidak lepas dari konfigurasi kekuasaan pasca-Pemilu 2024 yang timpang. Dominasi koalisi pemenang Pilpres di ratusan DPRD dikhawatirkan menjadikan mekanisme pemilihan tidak langsung sebagai instrumen pengamanan kekuasaan berbasis kursi legislatif.

Menurut Haykal, struktur seperti ini akan meniadakan kompetisi politik secara sistemik dan menghilangkan fungsi korektif pemilu. Selain itu, hal tersebut dianggap bertentangan dengan logika sistem presidensial.

"Kepala daerah harus memiliki legitimasi langsung dari rakyat agar relasi dengan DPRD bersifat seimbang. Pemilihan tidak langsung akan menciptakan ketergantungan kepala daerah pada fraksi DPRD, membuka ruang transaksi, dan melemahkan mekanisme checks and balances," jelasnya.

Haykal menyoroti argumen efisiensi anggaran yang sering digaungkan pendukung Pilkada lewat DPRD. Ia menilai hal tersebut bukan alasan yang tepat untuk menghapus hak pilih warga. Haykal menyebut biaya tinggi dalam Pilkada lebih disebabkan oleh desain penyelenggaraan yang tidak efisien, bukan mekanismenya.

"Menghilangkan Pilkada langsung demi menekan anggaran adalah kebijakan tidak proporsional yang mengorbankan prinsip demokrasi demi solusi semu," tegas Haykal.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa persoalan politik uang tidak akan selesai dengan memindahkan pemilihan ke DPRD. Justru, mekanisme tersebut berpotensi memusatkan praktik transaksional pada segelintir aktor politik dengan pengawasan publik yang lebih rendah.

"Masalah utama yang seharusnya dibenahi adalah lemahnya regulasi dana kampanye dan penegakan hukum, bukan dengan memangkas keterlibatan rakyat dalam memilih pemimpin daerahnya," pungkasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi II DPR Bahtra Banong, menilai wacana opsi-opsi untuk perubahan sistem pilkada bukan merupakan ‘barang haram’. Dia mengatakan semua opsi yang ada terkait sistem pilkada itu perlu dibicarakan, dan DPR juga akan menerima berbagai masukan dan pandangan dari publik.

Namun, dia mengatakan bahwa Komisi II DPR belum ada pembahasan terkait revisi Undang-Undang Pilkada. "Sampai sejauh ini sih kan belum ada pembahasan soal terkait soal Pilkada itu dan kami di DPR kan terbuka. Semua opsi kan harus dibicarakan, jadi opsi manapun tidak ada sesuatu yang mustahil," kata dia, di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (15/1).

Untuk saat ini, dia mengatakan bahwa Komisi II DPR akan memulai pembahasan revisi atau RUU tentang Pemilihan Umum. Menurut dia, Komisi II sudah diberi tugas untuk pembahasan itu, dan nantinya dia akan mengumumkan ketika mulai dibahas.

Untuk itu, menurut dia, Komisi II DPR akan fokus terlebih dahulu terhadap RUU Pemilu. Karena berdasarkan tahapan, Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden akan sebelum Pilkada. 

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menilai pilkada melalui DPRD mempermudah pengawasan politik uang alias money politics yang selama ini kerap terjadi.

Sebab, kata dia, apabila nantinya kepala daerah dipilih oleh DPRD, hanya akan terdapat sekitar 20-35 orang yang diawasi selama proses pilkada berjalan.

"Kemungkinan terjadinya money politics sangat kecil dibanding misalnya dibanding pilkada langsung dengan pemilih masyarakat satu kabupaten. Mengawasi orang se-kabupaten itu tidak mudah dan kemungkinan terjadinya money politics jauh lebih besar," ucap Yusril saat ditemui di Jakarta, Rabu (14/1).

Di sisi lain, dirinya berpendapat pilkada melalui DPRD membuka peluang lebih besar bagi para pemimpin daerah potensial untuk terpilih.

Yusril mengatakan salah satu kelemahan pilkada secara langsung oleh masyarakat, yakni kecenderungan hanya memilih sosok yang populer seperti artis, tanpa memikirkan kepiawaian orang tersebut dalam memimpin suatu daerah. (Faj/P-3)

Read Entire Article