Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (20/11).(MI/Ihfa Firdausya)
KEPALA Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menanggapi defisit APBN per 31 Oktober 2025 sebesar Rp479,7 triliun atau 2,02% dari PDB. Menurutnya, angka tersebut memang masih berada di bawah outlook 2,78%, namun pelebarannya dibanding tahun lalu menunjukkan tekanan fiskal yang meningkat.
"Kinerja penerimaan yang baru sekitar 70% target memperlihatkan basis perpajakan yang masih rapuh dan sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi serta harga komoditas," katanya saat dihubungi, Kamis (20/11).
Selain itu, perubahan keseimbangan primer dari surplus menjadi defisit juga menandakan beban belanja rutin yang makin besar, sehingga ruang untuk belanja produktif makin terbatas.
Meski realisasi belanja sudah di atas 73%, katanya, efektivitasnya belum optimal karena penyerapan di sejumlah kementerian/lembaga masih rendah.
Rizal mengatakan dalam jangka menengah, risiko fiskal tetap perlu diwaspadai. Jika defisit melebar terus sementara penerimaan tidak diperkuat, ruang fiskal akan menyempit dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi serta mendorong pertumbuhan inklusif bisa tergerus.
"Karena itu, APBN perlu penguatan struktural agar tidak hanya aman secara rasio, tetapi juga tangguh dan produktif menghadapi ketidakpastian," ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (20/11), menyebut secara seluruhan, realisasi APBN menunjukkan pengelolaan yang hati-hati dan prudent, serta terjaganya disiplin fiskal di tengah dinamika global.
Per 31 Oktober 2025, pendapatan negara telah terealisasi sebesar Rp2.113,3 triliun atau 73,7% dari outlook APBN. Kinerja ini didorong oleh penerimaan pajak sebesar Rp1.708,3 triliun atau 71,6% dari outlook.
Kemudian penerimaan negara bukan pajak atau PNBP sebesar Rp402,4 triliun atau 84,3% dari outlook. "Khusus PNBP, realisasinya melebihi capaian tahun 2024. Ini menunjukkan optimalisasi sumber daya non-pajak yang lebih efektif dari sebelumnya," ujar Purbaya.
Di sisi lain, belanja negara telah terealisasi sebesar Rp2.593,0 triliun, mencapai 73,5% dari outlook APBN. Menurut Purbaya, belanja ini dimanfaatkan secara optimal untuk program prioritas yang meliputi belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.879,6 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp713,4 triliun.
"Belanja ini diprioritaskan untuk menjaga daya beli, mendukung infrastruktur, dan mengawal reformasi struktural," katanya.
Dengan realisasi pendapatan dan belanja tersebut, defisit APBN per 31 Oktober 2025 tercatat sebesar Rp479,7 triliun atau sebesar 2,02% dari PDB.
Purbaya memastikan angka defisit itu berada dalam batas aman dan terkendali, jauh lebih rendah dari target outlook APBN sebesar 2,78% PDB untuk saat ini. Hal itu, katanya, mencerminkan komitmen disiplin fiskal yang kuat. (Ifa/E-1)

1 month ago
12





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·