Jakarta (ANTARA) - Tahun 2026 ini tepat seperempat abad sudah perjalanan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai lembaga resmi negara dalam mengelola zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.
Dalam kurun waktu tersebut, BAZNAS telah berkembang dari sekadar institusi pengelola dana keagamaan menjadi aktor penting dalam ekosistem pembangunan sosial-ekonomi nasional.
Hari jadi ke-25 BAZNAS ini menjadi momentum reflektif untuk menilai sejauh mana zakat, melalui tata kelola yang profesional, mampu berkontribusi nyata dalam mengurai kesenjangan dan mendorong pemerataan ekonomi di Indonesia.
Kesenjangan ekonomi Indonesia masih bersifat struktural. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun angka kemiskinan nasional cenderung turun, distribusi kesejahteraan belum sepenuhnya merata, baik antarwilayah maupun antarkelompok pendapatan.
Kelompok 20 persen teratas masih menguasai porsi pengeluaran yang jauh lebih besar dibandingkan 40 persen terbawah, sementara sebagian masyarakat rentan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan modal usaha.
Dalam konteks inilah zakat menemukan relevansi strategisnya sebagai instrumen redistribusi berbasis nilai keadilan dan solidaritas sosial dalam rangka mengurai kesenjangan sekaligus pemerataan ekonomi di tengah masyarakat.
Dampak sosial-ekonomi
Sejak berdiri pada 17 Januari 2001, BAZNAS mengemban mandat untuk memastikan bahwa zakat tidak berhenti sebagai praktik karitas individual, tetapi menjadi mekanisme kolektif yang berdampak sistemik.
Dengan demikian zakat diposisikan sebagai sumber daya sosial yang mampu memperkecil ketimpangan melalui transfer kekayaan yang terukur, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Pendekatan ini semakin diperkuat seiring meningkatnya kapasitas kelembagaan dan dukungan kebijakan terhadap pengelolaan zakat nasional.
Dalam tiga tahun terakhir, tren penghimpunan dan penyaluran zakat menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Data nasional memperlihatkan bahwa total penghimpunan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah meningkat tajam dari sekitar Rp21 triliun pada tahun 2022, melonjak menjadi lebih dari Rp32 triliun pada tahun 2023, dan terus tumbuh sepanjang tahun 2024 dengan realisasi penyaluran mendekati Rp39 triliun.
Tren ini tentunya mencerminkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap BAZNAS serta tumbuhnya kesadaran bahwa zakat memiliki dampak sosial-ekonomi yang nyata. Pertumbuhan penyaluran tersebut tidak hanya berarti peningkatan angka nominal, tetapi juga perluasan jangkauan manfaat.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·