Jakarta (ANTARA) - Citi memandang penguatan indeks saham yang terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar merupakan fenomena regional, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara Asia lainnya.
"Kami melihat bahwa Indonesia bukan satu-satunya pasar yang mengalami dinamika seperti ini,” kata Co-Head of JANA and Asia South, Investment Banking Coverage, Citi Kaustubh Kulkarni dalam diskusi secara hybrid yang diikuti di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fenomena serupa juga terlihat di Jepang, Korea Selatan dan India, di mana indeks saham acuan berada di level tertinggi atau mendekati rekor, sementara nilai tukarnya justru melemah.
Menurut Kaustubh Kulkarni atau akrab disapa KK, kondisi tersebut terjadi karena kebijakan ekonomi dan moneter di negara-negara tersebut menjadikan nilai tukar sebagai alat penyerap tekanan global, khususnya akibat kebijakan tarif AS.
Dalam situasi tersebut, nilai tukar berperan sebagai shock absorber atau alat penyerap guncangan, sehingga cenderung melemah ketika tekanan eksternal meningkat.
Di sisi lain, pasar saham tetap menguat karena ditopang oleh fundamental domestik yang solid, seperti konsumsi yang kuat, likuiditas domestik yang besar, sentimen investor ritel yang positif, serta investasi ritel yang terus mengalir ke pasar keuangan.
KK mengatakan bahwa kombinasi dari faktor-faktor tersebut mendorong aliran likuiditas masuk ke pasar saham dan menopang valuasi.
Ia menambahkan penguatan valuasi juga didukung oleh pertumbuhan laba emiten yang kuat dan berkelanjutan di masing-masing pasar.
Kondisi ini terlihat di berbagai pasar utama Asia, termasuk Indonesia, dan menjadi dasar keyakinan Citi bahwa aktivitas penghimpunan modal ekuitas masih memiliki prospek yang kuat, meskipun tekanan pada nilai tukar tetap berlanjut.
Sementara itu, Head of ECM Syndicate for Asia, Citi Rob Chan mencatat bahwa aktivitas penghimpunan dana di pasar saham Indonesia pada tahun lalu mencapai sekitar 1 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun lebih rendah dibandingkan dua tahun lalu.
Menurut dia, salah satu pertimbangan utama investor terhadap Indonesia masih terkait dengan tingkat likuiditas perdagangan saham.
Namun demikian, sektor-sektor tertentu, khususnya komoditas yang mencatat kinerja kuat, berpotensi menarik minat investor dan membuka peluang penghimpunan dana di pasar modal tambahan.
Rob juga memperkirakan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia dalam jangka pendek masih cenderung terbatas dan kecil kemungkinannya terjadi pada paruh pertama tahun ini.
“Beberapa yang sedang direncanakan (untuk IPO) mungkin masih akan terjadi di akhir tahun, atau bergeser ke tahun berikutnya,” kata Rob.
Secara global, Rob mencatat bahwa 2025 merupakan tahun yang sangat kuat bagi aktivitas penghimpunan dana di pasar saham, dengan pertumbuhan sekitar 25 persen secara tahunan dan total nilai transaksi mencapai sekitar 950 miliar dolar AS.
Secara keseluruhan, Citi memperkirakan aktivitas penghimpunan dana di pasar saham ASEAN akan tetap tinggi pada 2026, dengan nilai transaksi di kisaran 12-15 miliar dolar AS, seiring minat investor yang terus berlanjut dan membaiknya kondisi pasar regional.
Untuk diketahui, sepanjang tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan rekor all-time high (ATH) sebanyak 24 kali. Adapun level tertinggi IHSG tahun 2025 tercatat di angka 8.710,70 pada tanggal 8 Desember 2025.
Memasuki 2026, IHSG belum lama ini sempat menyentuh rekor terbaru yakni 9.000,54 pada perdagangan Kamis (8/1) pukul 10.05 WIB. Adapun pada Kamis ini (15/1), IHSG ditutup menguat 42,83 atau 0,47 persen ke posisi 9.075,41.
Baca juga: Citi Indonesia proyeksikan ekonomi RI tumbuh 5,3 persen pada 2026
Baca juga: Citi Indonesia catat laba bersih Rp2,3 triliun pada triwulan III 2025
Baca juga: Rupiah melemah seiring Trump tak berencana pecat Powell
Baca juga: IHSG ditutup menguat di tengah pelemahan mayoritas bursa Asia
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.





















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·