Mengapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal di Bulan Februari? Ini Penjelasan Psikolog

2 weeks ago 13
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki tahun baru 2026, banyak orang kembali menyusun resolusi dengan penuh semangat. Setiap Januari, jutaan orang bertekad menjadi versi diri yang lebih baik, mulai dari hidup lebih sehat hingga lebih produktif. Namun, kenyataannya resolusi Tahun Baru tidak selalu sejalan dengan harapan.

Saat Februari tiba, sebagian besar resolusi tersebut mulai ditinggalkan. Diprediksi 80 persen resolusi tahun baru gagal dipertahankan, seperti dikutip dari Psychology Today pada Rabu, 31 Desember 2025.

Selama ini, berbagai saran klasik sering diberikan, seperti menetapkan target yang spesifik, memulai dari langkah kecil, mencari teman pengingat, atau mencatat perkembangan. Meski tidak keliru, pendekatan tersebut kerap tidak membuahkan hasil karena melewatkan satu aspek penting, yakni bagaimana perubahan psikologis sebenarnya bekerja.

Banyak orang memandang resolusi sebagai pertarungan antara dua sisi dalam diri, yaitu pikiran rasional yang tahu mana yang baik dan keinginan yang mencari kesenangan sesaat. Dalam kerangka ini, kemauan dianggap sebagai suara perintah yang terus berkata 'Kamu harus ke gym', 'Jangan makan makanan manis' atau 'Bangun lebih pagi'.

Pandangan ini berakar dari konsep psikologi tripartit Plato yang membagi jiwa menjadi akal, semangat, dan nafsu. Pemikiran tersebut kemudian diadopsi oleh industri pengembangan diri modern, dengan asumsi bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika akal berhasil mengalahkan keinginan.

Identitas Diri yang Sering Terlupakan

Para psikolog menilai ada elemen penting yang kerap terabaikan, yaitu bagaimana seseorang memandang dan memperlakukan dirinya secara utuh. Perubahan bukan soal memenangkan konflik batin, melainkan tentang menghilangkan kebutuhan akan konflik tersebut.

Psikolog klinis menyoroti perbedaan besar antara kalimat 'Saya akan pergi ke gym' dengan 'Saya adalah orang yang menghargai kesehatan fisik'.

Pernyataan pertama bersifat perintah yang menuntut pengawasan terus-menerus dan sering berujung pada kelelahan mental. Sebaliknya, pernyataan kedua berangkat dari identitas diri. Ketika kesehatan sudah menjadi bagian dari jati diri, olahraga tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

Perubahan yang Berangkat dari Prinsip

Dalam praktik klinis, mereka yang berhasil melakukan perubahan besar, seperti berhenti mengonsumsi alkohol atau keluar dari hubungan tidak sehat, bukan selalu orang dengan kemauan paling kuat. Kunci keberhasilan mereka terletak pada cara memandang diri sendiri.

Seseorang yang berhenti minum alkohol hanya dengan menahan diri masih memposisikan dirinya sebagai 'Peminum yang sedang tidak minum'. Identitas lama itu tetap ada dan berisiko memicu kekambuhan.

Sebaliknya, ketika seseorang melihat dirinya sebagai individu yang menghargai kejernihan pikiran dan kesehatan mental, dorongan untuk minum mungkin masih muncul, tetapi tidak lagi memiliki kendali yang sama.

Menjadi Sahabat bagi Diri Sendiri

Menjelang tahun baru, banyak orang sibuk menyusun target dan resolusi. Namun, perubahan yang bertahan lama sering kali tidak dimulai dari daftar tujuan, melainkan dari hubungan yang sehat dengan diri sendiri.

Alih-alih bertanya, “Apa yang harus saya capai tahun ini?”, pertanyaan yang lebih bermakna adalah, “Saya ingin menjadi pribadi seperti apa?” Pertanyaan ini menggeser fokus dari hasil akhir ke proses pembentukan diri.

Begitu pula dalam membangun kebiasaan baru. Daripada memaksa diri dengan kalimat “saya harus melakukan ini”, lebih efektif jika bertanya, “Apa arti kebiasaan ini bagi hidup saya?”

Berolahraga, misalnya, bukan sekadar soal mengejar bentuk tubuh ideal, melainkan wujud kepedulian terhadap kesehatan dan energi tubuh. Menabung pun tidak hanya tentang jumlah uang, tetapi tentang menciptakan rasa aman dan ketenangan di masa depan.

Memang, perubahan semacam ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan penerimaan diri. Namun, perubahan yang tumbuh dari pemahaman dan sikap bersahabat terhadap diri sendiri cenderung lebih kuat dan berkelanjutan.

Karena itu, menjelang tahun baru, mungkin pertanyaan terpenting bukanlah resolusi apa yang harus dibuat, melainkan hubungan seperti apa yang ingin dibangun dengan diri sendiri. Perubahan sejati tidak lahir dari tekanan, melainkan dari pengertian dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Read Entire Article