Tokyo (ANTARA) - Sekelompok perempuan anggota parlemen lintas partai di Jepang, termasuk Perdana Menteri Sanae Takaichi, menyerukan penambahan jumlah toilet perempuan di gedung parlemen.
Gedung parlemen yang saat ini digunakan, dibangun sebelum perempuan di Jepang memperoleh hak pilih.
Saat ini, terdapat dua toilet pria di dekat pintu masuk ruang sidang Dewan Perwakilan Rakyat, sementara hanya ada satu toilet perempuan dengan dua bilik yang kerap menyebabkan antrean panjang menjelang sidang paripurna.
Kesenjangan itu terjadi karena gedung parlemen selesai dibangun pada 1936, ketika seluruh anggota parlemen adalah laki-laki.
Perempuan di Jepang baru memperoleh hak memilih pada 1946, dan pada tahun yang sama sebanyak 39 perempuan terpilih menjadi anggota Diet (parlemen Jepang).
Pada Desember lalu, sebanyak 58 anggota kelompok lintas partai, termasuk Takaichi, mengajukan permintaan kepada ketua komite pengarah majelis rendah agar jumlah toilet perempuan ditambah.
Permintaan itu juga mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya jumlah perempuan legislator di masa mendatang.
Dalam pemilu majelis rendah terakhir pada Oktober 2024, tercatat 73 perempuan terpilih sebagai anggota parlemen, jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Meski demikian, jumlah tersebut baru mencakup sekitar 15,5 persen dari total anggota.
Sementara itu, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang, Rabu, menyusun pedoman mengenai rasio ideal toilet perempuan dan laki-laki di fasilitas publik.
Langkah ini bertujuan mendorong pengelola fasilitas umum menambah jumlah bilik toilet perempuan guna menyeimbangkan waktu tunggu.
Kementerian menyatakan pedoman yang bersifat tidak mengikat tersebut akan diterapkan di berbagai fasilitas publik, termasuk stasiun dan bioskop.
Sumber: Kyodo-OANA
Baca juga: Parlemen Jepang akan pilih PM baru, Takaichi hadapi tantangan berat
Baca juga: Kampanye pemilihan presiden LDP Jepang dimulai, lima calon bersaing
Baca juga: Sebut beras pemerintah pakan ayam, anggota parlemen Jepang dikecam
Penerjemah: Primayanti
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·