Jakarta (ANTARA) -
Operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi alarm bagi negara berkembang bahwa ketahanan nasional tidak cukup hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga menuntut ketahanan informasi, siber, dan sistem peringatan dini.
Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menilai operasi militer Amerika Serikat (AS) yang melibatkan pasukan elite Delta Force menegaskan pentingnya tactical surprise sebagai instrumen kunci dalam perang modern.
Tactical surprise merupakan kejutan dalam operasi militer yang dilakukan pada waktu, tempat, dan cara yang tidak terduga lawan, sehingga menghambat kemampuan musuh merespons dan memberi keuntungan taktis bagi pihak penyerang.
Dalam keterangan yang diterima ANTARA di Jakarta, Minggu, Umam menuturkan keberhasilan operasi tersebut tidak ditentukan semata oleh superioritas persenjataan, melainkan oleh kemampuan menciptakan kejutan taktis yang terencana, sistematis, dan terintegrasi lintas darat, udara, siber, serta intelijen.
Ia menjelaskan operasi dini hari itu dilakukan tanpa peringatan, memanfaatkan kegelapan dan kondisi cuaca, serta diduga disertai gangguan siber yang melumpuhkan listrik dan komunikasi di Caracas, ibu kota Venezuela, sehingga aparat keamanan kehilangan koordinasi dan kendali situasi.
"Mematikan komunikasi sama artinya dengan mematikan kemampuan negara untuk merespons," katanya.
Lebih lanjut, Umam mengatakan faktor kecepatan menjadi penentu utama. Dalam waktu kurang dari tiga jam, operasi dinyatakan selesai, menutup ruang bagi lawan untuk berpikir maupun mengoordinasikan pertahanan.
Meski tampak mendadak, ia menegaskan kejutan tersebut merupakan hasil perencanaan jangka panjang yang didukung intelijen berbulan-bulan, pengawasan pergerakan target, serta latihan berbasis replika lokasi.
Baca juga: Venezuela bahas agresi AS dengan Brasil, Kolombia, Spanyol
Amerika Serikat juga menunjukkan dominasi udara dengan mengerahkan banyak pesawat, termasuk aset siluman, serta melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela dalam waktu singkat, sehingga operasi darat berlangsung nyaris tanpa hambatan.
Pasukan Delta Force kemudian melakukan penyerbuan presisi dan menangkap Maduro sebelum mencapai ruang aman, menandai puncak tactical surprise ketika target dikuasai lebih cepat dari kemampuan negara melindunginya.
Dalam pandangan Umam, operasi tersebut menegaskan bahwa negara yang gagal membangun kesiapsiagaan lintas domain akan selalu rentan terhadap kejutan strategis dalam sistem internasional yang anarkis.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, untuk dibawa ke New York.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.
Baca juga: Trump: Pemimpin oposisi Venezuela berpeluang kelola pemerintahan
Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·