Jakarta (ANTARA) -
Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah usai wawancara khusus dengan ANTARA di Jakarta, Rabu (10/12/2025). (ANTARA FOTO/Asri Mayang Sari)Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai dinamika geopolitik global tengah bergeser dari tatanan hukum internasional menuju persaingan kekuatan yang semakin rapuh dan tidak stabil.
Pergeseran ini, menurutnya, terlihat jelas setelah langkah Amerika Serikat (AS) di Venezuela serta ancaman pengambilalihan Greenland.
Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu, Rezasyah mengatakan Presiden AS Donald Trump memandang kritik komunitas internasional terhadap kebijakan Washington relatif lemah.
Kondisi tersebut, menurut dia, membuat Trump tidak merasa perlu menyelesaikan konflik melalui mekanisme dan aturan hukum internasional.
“Jadi Trump melihat kritik dunia itu lemah, dan PBB sampai sekarang juga belum mampu melahirkan resolusi,” ujar Rezasyah.
Ia menilai situasi tersebut mendorong tatanan global bergerak ke arah multipolar yang rapuh. Dalam kondisi ini, negara-negara cenderung mengambil posisi ganda untuk melindungi kepentingannya masing-masing di tengah persaingan antar kekuatan besar.
Rezasyah juga berpandangan bahwa Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO )mulai melihat AS sebagai sekutu yang mengkhawatirkan.
Penilaian itu muncul setelah tindakan AS terhadap Venezuela serta rencana pengambilalihan Greenland dari Denmark, yang membuat Rusia dinilai tidak lagi menjadi ancaman utama.
Dalam konteks tersebut, Rezasyah menilai posisi Indonesia di panggung internasional saat ini menyerupai ungkapan “mendayung antara dua karang” yang pernah diperkenalkan oleh Wakil Presiden pertama RI Mohammad Hatta.
Ia menegaskan Indonesia perlu bersikap sangat berhati-hati agar tidak menyinggung pihak-pihak terkait, sekaligus membangun kerja sama internasional yang berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan saling mendukung demi tercapainya perdamaian dunia.
Rezasyah juga menekankan pentingnya Indonesia untuk terus menegaskan komitmen terhadap perdamaian dunia dan prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurutnya, setiap langkah mempertahankan diri di tingkat global harus dilakukan semata-mata sebagai respons atas pelanggaran terhadap aturan internasional yang berlaku.
Pada 3 Januari, militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di Venezuela dengan tuduhan terorisme narkoba.
Setelah itu, Presiden Donald Trump menyatakan AS akan mengambil alih Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan.
Baca juga: RI prihatin serangan AS ke Venezuela jadi preseden buruk bagi dunia
Baca juga: Guru Besar UI dorong Prabowo perkuat diplomasi di konflik AS-Venezuela
Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·