Moskow (ANTARA) - Otoritas Iran memandang eskalasi protes sebagai kelanjutan dari perang 12 hari dengan Israel dan akan menyelidiki semua kasus provokasi baik oleh badan internasional maupun domestik, menurut sumber diplomatik di Iran kepada RIA Novosti.
Sebelumnya pada 12 Januari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa protes pada akhir Desember 2025 awalnya damai, berpusat di pasar dan serikat pekerja, dan bahwa otoritas Iran ketika itu telah terlibat dalam dialog dengan para demonstran.
Namun, unjuk rasa itu diikuti oleh "fase kedua," di mana "wajah-wajah baru" ikut campur, dan protes mulai meningkat menjadi kekerasan.
Dari tanggal 8 hingga 10 Januari, "elemen dan kelompok teroris bersenjata" muncul, bertujuan untuk memicu pemberontakan dan pertumpahan darah.
Sumber diplomatik itu mengatakan bahwa selama fase ketiga ini, individu bersenjata melepaskan tembakan ke arah petugas polisi dan warga sipil, berusaha memprovokasi adanya intervensi dari pemerintah AS.
"Iran memandang fase ini sebagai kelanjutan dari 'Perang 12 Hari.' Kejahatan ini akan diselidiki oleh otoritas internasional dan domestik," kata sumber tersebut.
Tahap keempat protes dimulai pada 10 Januari, tetapi sekarang situasinya terkendali, karena "banyak elemen teroris telah ditahan dengan senjata di tangan, dan kesaksian mereka akan segera dipublikasikan," tambah sumber tersebut.
Sumber tersebut juga menuding bahwa beberapa peserta kerusuhan menerima 600 dolar AS (sekitar Rp10 juta) karena menyerang kantor polisi dan 300 dolar AS (sekitar Rp5 juta) karena membakar kendaraan pemerintah.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Iran kecilkan risiko eskalasi, tuding AS dan Israel picu protes
Baca juga: Iran eksekusi pria yang memata-matai untuk Israel
Baca juga: Iran sebut program rudalnya untuk pertahankan kedaulatan nasional
Penerjemah: M Razi Rahman
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·