Istanbul (ANTARA) - Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Kamis (15/1) menegaskan kembali penolakan Beijing terhadap penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional di tengah ketegangan AS-Iran, menurut pernyataan dari Kementerian Luar Negeri China.
Beijing “secara konsisten menganjurkan kepatuhan terhadap tujuan Piagam PBB dan hukum internasional, menentang penggunaan atau ancaman kekerasan dalam hubungan internasional,” kata Wang kepada Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Wang mengatakan China menentang “upaya memaksakan kehendak kepada pihak lain, dan menentang cara-cara kekuasaan seperti ‘hukum rimba.’
China percaya bahwa pemerintah dan rakyat Iran akan bersatu, untuk mengatasi kesulitan, menjaga stabilitas nasional, dan melindungi hak dan kepentingan sah mereka,” tambahnya.
Di tengah ketegangan antara Iran dan AS, Beijing memberikan dukungan kepada Teheran terhadap campur tangan asing.
Wang mendesak semua pihak untuk “menjunjung tinggi perdamaian, menahan diri, dan menyelesaikan perbedaan melalui dialog.”
“China bersedia memainkan peran konstruktif dalam upaya ini,” katanya.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan bahwa “stabilitas telah dipulihkan” setelah “kerusuhan” yang “dipicu oleh kekuatan eksternal,” menurut pernyataan itu.
“Iran siap menghadapi campur tangan eksternal,” sementara pintu dialog tetap terbuka, kata Araghchi.
Selain itu, ia juga mengapresiasi dukungan Beijing dalam “memainkan peran yang lebih besar untuk perdamaian dan stabilitas regional.”
Teheran menuduh Washington dan Israel mendukung “kerusuhan” dan “terorisme” di tengah meningkatnya ketidakpastian tentang kemungkinan tindakan militer AS terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali berjanji untuk mendukung para demonstran di Iran, di mana penindakan oleh pihak berwenang dikatakan telah mengakibatkan ribuan korban jiwa.
Namun, pemimpin AS itu melunakkan retorikanya selama pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (14/1) malam.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), sebuah kelompok yang berbasis di AS, memperkirakan bahwa setidaknya 2.615 orang telah tewas, termasuk para demonstran dan personel keamanan, sementara otoritas Iran belum merilis angka resmi mengenai korban jiwa atau tahanan.
Protes dimulai pada 28 Desember di pusat-pusat perdagangan di Teheran, ketika pemilik toko, pedagang, dan pemilik usaha kecil melakukan pemogokan dan demonstrasi untuk memprotes inflasi yang melonjak, jatuhnya nilai rial, dan memburuknya kondisi ekonomi.
Demonstrasi tersebut kemudian berkembang menjadi ekspresi ketidakpuasan anti-pemerintah di seluruh negeri yang melibatkan pekerja, mahasiswa, dan lainnya di berbagai kota di Iran.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Iran sebut eskalasi protes kelanjutan "Perang 12 Hari" dengan Israel
Baca juga: PBB ingatkan retorika serangan militer ke Iran akan perburuk situasi
Baca juga: Iran bantah isu hukum mati pengunjuk rasa di tengah gelombang protes
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)




English (US) ·