Gaza (ANTARA) - Saat badai musim dingin dahsyat melanda Jalur Gaza, warga Palestina mengumpulkan batang besi dari reruntuhan rumah mereka yang hancur akibat bom untuk memperkuat tenda-tenda darurat yang terbukti tidak mampu melawan angin dan hujan.
Di area permukiman al-Jalaa di Gaza City, Ali al-Hajjar (55) menggunakan palu berat untuk mencungkil batang-batang besi tulangan dari pilar beton yang retak di rumah lamanya.
"Saya tidak lagi mencari barang-barang pribadi di antara puing-puing, melainkan material untuk melindungi keluarga saya dari musim dingin," ungkap al-Hajjar kepada Xinhua.

Anak-anak Palestina yang terlantar terlihat di tempat penampungan sementara di barat Kota Gaza, pada 22 Desember 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad
Sejak gencatan senjata pada 10 Oktober mengakhiri putaran terbaru pertempuran, al-Hajjar mengatakan bahwa keluarganya yang terdiri dari tujuh orang masih belum mendapat tenda maupun tempat tinggal alternatif.
Setelah badai baru-baru ini merobohkan tempat perlindungan mereka sebelumnya, sebuah bangunan rapuh yang terbuat dari kayu dan nilon, keluarga itu terpaksa menghabiskan malam di bawah area terbuka, dengan selimut dan kasur mereka basah kuyup.
Di kamp pengungsi Shati, Mohammed al-Shanti (47) dan keluarganya mengumpulkan besi dari rumah mereka yang hancur untuk mendirikan klaster tenda yang diperkuat. Dia menyebutkan bahwa tenda tradisional sudah tidak dapat digunakan karena lantainya berubah menjadi lumpur dan air merembes ke dalam.
Praktik "menambang" reruntuhan demi mendapatkan baja bangunan telah menjadi taktik bertahan hidup yang meluas di Gaza, terutama di daerah-daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Warga mengubah besi yang diperoleh menjadi lengkungan untuk menopang atap tenda, sehingga air hujan dapat mengalir alih-alih menggenang dan merobohkan tenda tersebut.
"Kami sedang membongkar sisa-sisa rumah kami untuk membangun tempat perlindungan sederhana," ujar al-Hajjar.
Tren ini menyoroti bentuk adaptasi terpaksa akibat krisis material konstruksi. Israel terus membatasi masuknya pasokan bahan bangunan ke wilayah kantong tersebut, dan tingginya harga semen di pasar lokal telah membuat perbaikan formal mustahil bagi sebagian besar warga.
Warga Palestina yang terlantar berjalan di luar saat hujan di lingkungan Zeitoun, tenggara Kota Gaza, pada 11 Desember 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek AbdeljawadDi kamp pengungsi Shati, Mohammed al-Shanti (47) dan keluarganya mengumpulkan besi dari rumah mereka yang hancur untuk mendirikan klaster tenda yang diperkuat. Dia menyebutkan bahwa tenda tradisional sudah tidak dapat digunakan karena lantainya berubah menjadi lumpur dan air merembes ke dalam.
Bagi warga seperti Abbas Saud, yang juga mulai mengambil besi dari puing-puing setelah melihat tetangganya melakukan hal yang sama, risiko dari tindakan menangani puing-puing berat dikalahkan oleh kebutuhan akan stabilitas.
"Besi dan beton yang digunakan kembali akan dibuang jika rekonstruksi dimulai," kata al-Shanti. Penggunaannya saat ini hanyalah langkah sementara yang didorong oleh kebutuhan.
Krisis kemanusiaan semakin memburuk seiring dengan penurunan suhu. Kantor media pemerintah yang dikelola Hamas baru-baru ini memperingatkan bahwa lebih dari 288.000 keluarga tidak memiliki tempat perlindungan yang memadai, dan memperkirakan bahwa dibutuhkan 300.000 tenda dan unit hunian bergerak (mobile housing) guna memenuhi permintaan tersebut.
Warga Palestina duduk di sekitar tenda darurat untuk tetap hangat setelah hujan di tempat penampungan sementara di Kota Gaza, pada 12 Desember 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad "Banyak keluarga kini memakai kembali besi bekas akibat kurangnya alternatif hunian dan keterlambatan kedatangan karavan," papar Saud, seraya menjelaskan bahwa meskipun tenda darurat tersebut tidak memenuhi standar keselamatan, tenda-tenda itu tetap memberikan perlindungan dari alam.
"Upaya-upaya ini bukanlah pilihan yang diinginka. Ini merupakan adaptasi terhadap kondisi yang dimunculkan oleh perang,"kata Saud
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·