Membaca Kembali Venezuela dan Kegagalan Negara

11 hours ago 3
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Caracas (Venezuela) Feb. 18, 2009. Former Venezuelan President Hugo Chavez at a press conference at the Miraflores Palace in Caracas.© Harold Escalona / shutterstock.com

Imajinasi saya di dalam memandang setiap tokoh yang bersidang atau berpidato di Podium PBB yang sakral nun strategis itu, seperti membayangkan setiap tokoh fenomenal pernah berpidato disana sembari berkeluh kesah soal keadaan bangsanya. Namun, yang paling fenomenal bukanlah sebuah sekedar ia tokoh bangsa atau tokoh historis yang pernah berpidato disana, melainkan ucapannya.

Ia adalah Hugo Chávez. Yang pada September 2006 di podium tersebut adalah "And the Devil came here yesterday. Yesterday the Devil came here. Right here. And it smells of sulphur still today." Tentu, Chávez adalah presiden Venezuela yang sekaligus juga entah mempromosikan buku atau bagaimana, dengan memperlihatkan buku Noam Chomsky.

Entah, ada yang tertawa dan sekaligus baper saat pidato Chávez itu, yaitu Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice dan Presiden Sidang Umum PBB Sheikha Haya Rashed Al Khalifa yang tertawa dan tersenyum di belakang Chávez.

Tentu, bukan jalannya sidang itu yang akan kita bahas. Melainkan latar belakang seorang Chávez sebagai Presiden Venezuela. Kini, beberapa hari terakhir, berita mengenai Venezuela tidaklah sedikit. Kumparan pada 5 Januari 2026 memberitakan Maduro Ditangkap, Trump Klaim AS Sudah Kuasai Venezuela dan tentu saja kata kunci yang selalu keluar apabila membahas Venezuela, apabila bukan Chávez maka soal "minyak". Apa yang mengganjal di urusan dalam negeri Venezuela yang ternyata koCháveznsekuensi dari kebijakan lama Chávez?

Variabel Penting Venezuela

Variabel itu kita sebut saja A,C,R,C. Supaya tidak masuk dalam kerangka matematis seperti X1,X2,X3 dan X4. Namun, penting untuk melihat bagaimana kebijakan Chávez itu ternyata ada pengaruh kepada Amerika (A), Castro atau Cuba (C1), Rusia (R) dan China (C2). Namun, pembuka jalan yang sesungguhnya adalah Castro yang merupakan simbol Perang Dingin atau simbol Anti-Amerika yang masih hidup setelah Fukuyama menuliskan The End of History.

Salim Said pernah berkata pada 2016 bahwa Kuba akan menjadi kapitalis dan beberapa negara di Eropa Timur sudah ada yang bergabung dengan NATO, dan negara yang paling unik adalah Komunis Kerajaan yaitu Korea Utara. Artinya, negara Komunis yang masih eksis akan euforia Perang Dingin salah satunya Kuba yang saat itu sebelum 2008 masih diwakili oleh Castro.

Namun, mengapa Castro menjadi pembuka jalan ini? Pada 2 Februari 1999, Fidel Castro hadir di Istana Misaflores, Venezuela. Sehari setelahnya, ia berpidato disana dengan pidato yang beraroma populis dan juga revolusioner. "Raise your flags high so that they can be seen in the United States, so that they may see what Chavez is doing to support the young people." ucap Castro saat itu menyinggung Amerika yang mana Castro adalah sebuah simbol memalukan Amerika Serikat yaitu kegagalan Teluk Babi di masa CIA dipimpin oleh Allen Dulles dan Presiden John F. Kennedy.

Fakta bahwa saat itu blok Komunis sudah runtuh dengan keruntuhan Uni Soviet itu sendiri, namun kesimpulan kita pertama adalah bahwa terbukanya pintu masuknya negara lain ke Venezuela adalah Chávez, sehingga kita melihat per hari ini masuknya AS dalam intervensi ke Venezuela hingga media memperlihatkan euforia kebanggaan dari masyarakat itu sendiri akan penangkapan Maduro oleh Trump, barangkali kita akan melihat cermin masa lalu mereka. Tetapi, ini masih simplistis.

Seperti yang dikatakan oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt yaitu How Democracies Die, bahwa kematian demokrasi itu sendiri justru terjadi dengan cara yang demokratis. Namun, dalam kaitannya dengan Castro, seorang jurnalis Venezuela bernama Orlando Avendaño, menulis editorial berjudul Días de Sumisión yang terbit pada 2018, mengatakan bahwa gerbang utama dalam kekalahan demokrasi di Venezuela oleh Castro. Dan dalam kata pengantarnya, ia berani mengatakan bahwa yang berkuasa saat itu bukanlah Chávez, melainkan Castro pada 1999.

Namun, ini menjadi penting dikarenakan ada relasi yang sudah ada antara Venezuela dengan Amerika Serikat dan contohnya adalah United States Drug Enforcement Administration (DEA). Namun, Chávez memutuskan hubungan itu pada Agustus 2005. Lalu, 16 November 2025, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah membuat pernyataan bahwa Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing (FTO). Kenapa penting? Ini karena sebelum DEA berakhir oleh Chávez, AS nyaris sama sekali tidak pernah konsentrasi akan organisasi tersebut, setelah Chávez, itu menjadi organisasi penting yang kemudian diberikan cap sebagai teroris.

Tetapi, variabel penting untuk membuka relasi dengan bebuyut...

Read Entire Article