Media, Perempuan, dan Warisan Patriarki

2 days ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Di tengah arus informasi yang semakin cepat, media sering dipandang sebagai ruang netral yang sekadar menyampaikan realitas. Namun, di balik narasi yang ditampilkan, media kerap membawa warisan nilai lama, termasuk patriarki, yang masih membentuk cara perempuan direpresentasikan. Perempuan sering kali muncul sebagai objek visual, korban, atau pelengkap cerita, sementara suara dan agensinya tersisih. Representasi semacam ini tidak hanya mencerminkan ketimpangan gender, tetapi juga berpotensi melanggengkan cara pandang masyarakat yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Dalam pemberitaan, perempuan kerap diberi label yang berbeda dibandingkan laki-laki. Ketika perempuan menjadi korban kejahatan, fokus media sering bergeser pada cara berpakaian, kehidupan pribadi, atau pilihan hidupnya. Alih-alih menyoroti pelaku dan struktur sosial yang memungkinkan kekerasan terjadi, perempuan justru kembali diposisikan sebagai pihak yang “patut dipertanyakan”. Pola ini menunjukkan bahwa logika patriarki masih bekerja dalam praktik jurnalistik, baik disadari maupun tidak.

Ilustrasi menampilkan wajah perempuan yang terfragmentasi oleh layar media, merepresentasikan bagaimana identitas perempuan kerap dibingkai, dipotong, dan dikonstruksi ulang oleh narasi media. (Foto: Ilustrasi AI oleh Gemini)

Di ranah hiburan dan iklan, tubuh perempuan juga masih menjadi komoditas utama. Media kerap menampilkan standar kecantikan tertentu yang sempit seperti putih, langsing, muda, dan menarik secara visual. Perempuan diposisikan sebagai objek yang dinilai dari penampilan, bukan dari kapasitas, pemikiran, atau perannya sebagai subjek sosial. Representasi semacam ini menciptakan tekanan tersendiri, terutama bagi perempuan muda, untuk menyesuaikan diri dengan standar yang dibentuk media.

Media sosial yang sering dianggap sebagai ruang baru yang lebih demokratis pun tidak sepenuhnya bebas dari warisan patriarki. Meski memberi peluang bagi perempuan untuk bersuara dan membangun narasi sendiri, media sosial juga menjadi ruang baru bagi penghakiman, pelecehan, dan kontrol terhadap tubuh serta pilihan perempuan. Algoritma dan budaya viral sering kali justru memperkuat konten yang mereproduksi stereotip gender.

Situasi ini menunjukkan bahwa media bukan sekadar cermin realitas, melainkan aktor aktif dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Oleh karena itu, upaya menciptakan representasi yang lebih adil tidak cukup hanya dengan meningkatkan jumlah perempuan di media, tetapi juga menuntut perubahan cara media membingkai cerita. Kesadaran gender dalam produksi media menjadi penting agar media tidak terus mewariskan nilai patriarki, melainkan berperan sebagai ruang yang lebih setara dan inklusif.

Media memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini publik. Ketika media mulai memberi ruang pada suara perempuan sebagai subjek, bukan sekadar objek, maka warisan patriarki perlahan dapat dipertanyakan dan dilemahkan. Di sinilah peran media seharusnya berpihak bukan pada pelanggengan ketimpangan, melainkan pada keadilan dan kemanusiaan.

Read Entire Article