Kenapa Kita Harus Berhenti Memenjarakan Semua Orang?

2 days ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Ilustrasi orang ditangkap di penjara. Foto: sakhorn/Shutterstock

Sudah jadi rahasia umum kalau kondisi penjara kita saat ini sudah berada di titik nadir. Lapas yang melebihi kapasitas bukan lagi sekadar berita basi, melainkan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Kita seperti terjebak dalam pola pikir purba: bahwa satu-satunya cara menebus kesalahan adalah dengan dikurung di balik jeruji besi. Padahal, di tengah kebuntuan ini, muncul sebuah tawaran yang jauh lebih masuk akal bernama pidana kerja sosial. Tapi pertanyaannya, apakah ini benar-benar solusi untuk memanusiakan hukum, atau jangan-jangan cuma "pemanis" agar negara terlihat sedang bekerja?

Secara teori, pidana kerja sosial adalah wajah asli dari keadilan. Alih-alih mengurung orang di penjara yang justru sering kali menjadi "sekolah" baru bagi para kriminal, pelaku tindak pidana ringan harusnya diminta membayar utangnya langsung kepada masyarakat. Bayangkan jika seorang pelaku pelanggaran kecil tidak perlu kehilangan masa depannya di dalam sel yang pengap, melainkan harus mengabdi di panti jompo, membersihkan selokan kota, atau membantu di fasilitas umum. Ada sanksi moral dan rasa malu yang jauh lebih membekas di sini ketimbang sekadar duduk diam menerima jatah makan gratis dari pajak rakyat.

Namun, kita juga tidak boleh naif. Di negeri di mana celah hukum sering kali bisa "dibeli", pidana kerja sosial punya potensi besar untuk menjadi ilusi belaka. Tanpa sistem pengawasan yang transparan dan berbasis data, hukuman ini rentan menjadi pintu belakang bagi mereka yang punya kuasa untuk lari dari tanggung jawab. Kita tentu tidak ingin melihat disparitas hukum yang semakin menganga; di mana rakyat kecil tetap mendekam di penjara sesak, sementara mereka yang punya "koneksi" menjalani kerja sosial yang rasanya seperti bakti sosial santai di akhir pekan.

Persoalannya bukan cuma soal aturan di atas kertas, tapi soal integritas di lapangan. Siapa yang menjamin bahwa kerja sosial tersebut bukan sekadar seremoni foto untuk laporan? Jika mekanisme kontrolnya lembek, maka kerja sosial ini tidak akan lebih dari sekadar formalitas yang kehilangan esensi jeranya. Kita tidak butuh sekadar perpindahan tempat hukuman, kita butuh transformasi mental pelaku.

Pada akhirnya, kita harus berani mengakui bahwa memenjarakan semua orang adalah kebijakan yang malas dan mahal. Pidana kerja sosial menawarkan jalan keluar yang lebih bermartabat: memberikan kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki diri tanpa harus tercabut dari akar sosialnya. Namun, semua itu akan sia-sia jika penegak hukum kita masih menganggap keadilan hanya bisa diukur dari berapa tahun seseorang mendekam di sel. Sudah saatnya kita sadar bahwa menghukum tidak harus menghancurkan, dan memaafkan tidak berarti membiarkan tanpa sanksi yang mendidik. Sebab, tujuan akhir dari hukum seharusnya adalah memulihkan kehidupan, bukan sekadar memuaskan dendam.

Read Entire Article