Akademisi: Generasi Muda Rentan Terpapar Propaganada Kekerasan Lewat platform Digital

1 month ago 11
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengaruh propaganda dan ideologi teror yang makin meluas selayaknya perlu menjadi perhatian banyak pihak. Jika dulu ideologi dan paham berbasis kekerasan kebanyakan hanya dijumpai pada kegiatan keagamaan tertentu, sekarang hal yang sama juga menyebar dengan bentuk yang lebih menyenangkan bagi anak-anak dan remaja. Masifnya sebaran konten kekerasan cukup menjadi alasan bagi semua unsur dalam ekosistem pendidikan untuk bersinergi menerapkan budaya yang luhur.

Akademisi Fakultas Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Muhammad Abdullah Darraz, menduga adanya desentralisasi dalam pola sebaran ideologi berbahaya ini. 

Menurutnya, saat ini generasi muda dengan sangat mudah rentan terpapar propaganda ekstremisme berbasis kekerasan melalui berbagai platform digital. Dulu, propaganda ekstremisme banyak bergantung pada struktur hierarkis kelompok-kelompok organisasi teroris. Materi propaganda dibuat secara profesional oleh pusat media mereka dan disebarkan melalui saluran yang terbatas. 

"Namun, saat ini keadaannya telah mengalami pergeseran. Propaganda kelompok radikal semakin terdesentralisasi, dalam artian diciptakan dan disebarkan oleh individu atau sel-sel kecil yang tidak selalu terikat dengan organisasi dan kelompok-kelompok teroris tertentu. Mereka menggunakan platform yang tersedia untuk semua, seperti media sosial, aplikasi pesan, dan forum game online," kata Darraz.

Dirinya pun menyayangkan pelajar atau individu lainnya di dalam ekosistem pendidikan bisa dengan mudah menjadi produsen sekaligus konsumen konten-konten bermuatan radikal dan ekstrem. Pada prosesnya hingga terpapar ideologi kekerasan, mereka tidak perlu menjadi anggota resmi suatu jaringan teroris tertentu.

Darraz menilai, banyaknya konten-konten digital dengan muatan kekerasan atau ekstremisme secara tidak langsung didukung oleh pembuatan konten yang semakin mudah. Sekarang, konten digital bisa dibuat dengan sederhana melalui meme, video pendek TikTok/Reels, thread di Twitter/X, atau obrolan di grup WhatsApp/Telegram. Format konten semacam ini sangat akrab dan menarik bagi generasi muda.

Selain maraknya konten dengan unsur kekerasan, faktor terjadinya kekerasan di lingkungan pendidikan bisa juga disebabkan oleh kesehatan mental pelajar yang seringkali terabaikan. "Peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta yang lalu menjadi bukti bahwa aksi teror dan kekerasan tidak melulu harus melibatkan jaringan terorisme tertentu. Aksi kekerasan atau teror bisa diinspirasi oleh berbagai ideologi, termasuk ideologi white supremacy,” ujar mantan peneliti di Ma’arif Institute ini.

Darraz yang juga dikenal sebagai pegiat anti kekerasan ini menyatakan, penyebab tindak kekerasan yang kompleks dan tidak homogen yang seringkali memanfaatkan kerentanan generasi muda. Terabaikannya mereka menghasilkan anak-anak yang menjadi “aktor” sekaligus “korban” dalam laku kekerasan. Ini harus mendapatkan perhatian khusus dalam ekosistem pendidikan di Indonesia.

“Aksi kekerasan dalam bentuk terror bisa didorong oleh faktor-faktor individu dan sosial, diantaranya adalah persoalan psikologis seperti pengucilan diri, kemarahan berlebihan, atau pernyataan yang mendukung kekerasan,” ujar Darraz.

“Pelajar yang merasa terpinggirkan, didiskriminasi, atau frustasi dengan ketidakadilan yang mereka lihat, baik secara lokal maupun global, sangat rentan. Konten ekstremis menawarkan penjelasan sederhana tentang ‘siapa yang salah’ dan memberikan cara ‘nyata’ melalui kekerasan untuk melawan, yang memuaskan kebutuhan mereka untuk bertindak dan membalas,” imbuhnya. 

Darraz menegaskan bahwa area publik seperti sekolah, harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh-kembang generasi muda. Jangan sampai ada lagi aksi-aksi kekerasan yang dilakukan karena didorong oleh persoalan psikologis yang mereka alami.

Darraz berpesan agar orang tua, guru, pemerintah, dan seluruh pihak terkait bisa proaktif untuk membentuk ekosistem pendidikan yang memiliki resistensi tinggi terhadap sebaran paham yang bermuatan intoleransi dan kekerasan secara umum.

Menurutnya, ekosistem pendidikan yang ideal harus memiliki upaya preventif atau pencegahan untuk membangun ketahanan dari dalam melalui pendidikan karakter, inklusivitas, dan kesehatan mental. Selain itu, guru dan orang tua dibekali pengetahuan untuk melakukan deteksi dini demi mengenali gejala kerentanan dan paparan ideologi berbahaya. Pada akhirnya, ekosistem pendidikan bisa melakukan intervensi dengan tepat, yaitu menangani masalah dengan pendekatan suportif, bukan punitif, serta dengan melibatkan konselor, orang tua, dan komunitas.

“Dengan menerapkan strategi yang multi-segi dan konsisten ini, ekosistem pendidikan dapat berubah dari being a target menjadi benteng yang kuat terhadap sebaran paham intoleransi dan kekerasan," kata Darraz.

Read Entire Article