Tokyo (ANTARA) - China daratan mencatat penurunan jumlah penduduk untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, menurut data pemerintah yang dirilis pada Senin.
Belum ada tanda-tanda perlambatan penuaan populasi di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu, meski kebijakan "satu anak" telah dihapus sejak 2016.
Jumlah penduduk China daratan (tidak termasuk Taiwan, Hong Kong, dan Makau) mencapai 1,405 miliar jiwa pada akhir 2025, turun 3,39 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Jumlah kelahiran tercatat 7,92 juta, turun dari 9,54 juta pada 2024, padahal pemerintah China telah menerapkan kebijakan yang mendorong kelahiran, termasuk pemberian tunjangan tahunan sebesar 3.600 yuan (sekitar Rp8,8 juta) untuk setiap anak di bawah tiga tahun.
Angka kelahiran berada di level 5,63 per 1.000 penduduk setelah sebelumnya tercatat 6,39 pada 2023.
Angka pada 2025 itu menjadi rekor terendah sejak 1949, ketika Mao Zedong mendirikan Republik Rakyat China yang dipimpin Partai Komunis.
Rasio penduduk lansia berusia 65 tahun ke atas naik 0,3 poin persentase menjadi 15,9 persen.
Sementara itu, penduduk usia produktif 16–59 tahun pada 2025 mencapai 851,36 juta jiwa atau 60,6 persen dari total populasi. Angka tersebut turun 6,62 juta dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejak 2021, China telah mengizinkan pasangan menikah memiliki hingga tiga anak, tetapi lonjakan kelahiran belum juga terjadi. Para ahli menilai tingginya biaya untuk membesarkan anak menjadi beban bagi pasangan muda.
Selain mengakhiri kebijakan "satu anak" yang diberlakukan pada 1979, China mulai menaikkan usia pensiun secara bertahap selama 15 tahun sejak Januari 2025.
Langkah itu ditempuh di tengah kekhawatiran bahwa populasi yang menua dengan cepat bisa menghambat pertumbuhan ekonomi.
Menurut perkiraan PBB, India menyalip China sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia pada 2023. Satu tahun sebelumnya, populasi China daratan menyusut untuk pertama kalinya dalam 61 tahun.
Sumber: Kyodo
Baca juga: China kendalikan pergeseran demografis dengan dukung kelahiran anak
Baca juga: China ingin tingkatkan angka kelahiran dan perbaiki layanan lansia
Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.






















:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5274842/original/066514900_1751813073-Thibaut_Courtois.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425070/original/013103300_1764211382-ARNE.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5079575/original/007201300_1736152577-1735888186921_ciri-tensi-rendah.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425161/original/045302800_1764215576-atletico_madrid_vs_inter_milan.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4668817/original/047647600_1701319471-person-holding-world-aids-day-ribbon.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424978/original/015359200_1764192932-virgil_van_dijk_protes_liverpool_psv_ap_jon_super.jpg)



English (US) ·