Jalan Sunyi Islam Politik

10 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Masjid sebagai simbol Islam. (Foto: Fahrul Azmi, under the Unsplash license).

Saya menulis artikel ini diinspirasi oleh poin-poin diskusi dengan seorang aktivis senior Islam yang lama malang melintang dari masa ke masa.

Dalam perbincangan itu, muncul satu kesimpulan reflektif: kegagalan Islam politik di berbagai negara sering dibaca terlalu sederhana—seolah kalah total—padahal jika ditelaah lebih dalam, justru di sanalah daya tahannya bekerja secara sunyi, tapi panjang.

Jika dibaca secara komparatif, kegagalan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jamaat-e-Islami di Pakistan, dan Masyumi di Indonesia memang mirip secara struktural, tetapi berbeda dalam akibat jangka panjang.

Ketiganya berhadapan dengan negara nasional-sekuler yang tidak netral, bersandar pada aparat koersif, dan memandang Islam politik sebagai ancaman terhadap konsolidasi kekuasaan.

Namun, hasil akhirnya tidak seragam: ada yang nyaris terputus, ada yang terkooptasi, dan ada pula yang justru menjelma menjadi fondasi normatif negara.

Represi Negara dan Kekalahan Struktural

Ilustrasi kelompok Ikhwanul Muslimin. Foto: Khalil Mazraawi/AFP

Dalam perspektif ilmu politik modern, apa yang dialami Ikhwan, Jamaat, dan Masyumi dapat dibaca melalui kacamata state power vs civil society.

Ahli politik Olivier Roy—dalam The Failure of Political Islam—menegaskan bahwa banyak gerakan Islam politik bukan kalah karena miskin gagasan, melainkan karena negara modern memiliki monopoli kekerasan dan hukum yang tidak memberi ruang adil bagi oposisi ideologis. Negara tidak hanya mengatur politik, tetapi juga mendefinisikan “agama yang boleh hidup”.

Ikhwanul Muslimin adalah contoh paling "telanjang". Di era Gamal Abdel Nasser, Ikhwan dihancurkan oleh negara militer yang berorientasi Soviet demi menghadapi Inggris dan Israel.

Ironinya, hari ini Ikhwan kembali dihancurkan oleh militer Mesir yang pro-AS dan bersekutu dengan Israel. Orientasi geopolitik berubah, tetapi watak represinya sama. Islam politik dihadapkan pada tembok negara bersenjata.

Jamaat-e-Islami di Pakistan mengalami tragedi berbeda. Pakistan sejak lahir mengusung Islam sebagai identitas, tetapi kekuasaan riil dikuasai oleh militer dan birokrasi. Jamaat dibiarkan hidup, tetapi dalam ruang sempit—cukup untuk legitimasi, terlalu kecil untuk berdaulat. Ini membuat Islam politik terjebak antara idealisme dan kompromi struktural.

Masyumi dan Jalan Panjang Etika Kenegaraan

Ilustrasi Masyumi. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Indonesia memberikan pelajaran paling menarik. Masyumi memang disingkirkan oleh nasionalisme-sekuler ala Soekarno yang kemudian bersekutu dengan PKI melalui konsep Nasakom. Namun, cara Masyumi “kalah” justru menentukan cara ia “menang” dalam jangka panjang.

Tokoh seperti Mohammad Natsir tidak memilih jalan konfrontasi ideologis yang membakar negara. Ia menanamkan etika kenegarawanan, arti penting NKRI, rasionalitas hukum, dan pandangan bahwa Islam dapat hidup berdampingan dengan negara bangsa tanpa kehilangan prinsip.

Di sinilah relevan pemikiran banyak ulama Islam modern Indonesia, yang menekankan substansialisasi nilai Islam daripada formalisasi simbolik. Negara bukan musuh iman, selama iman bekerja melalui nilai publik.

Secara faktual, banyak gagasan Masyumi tentang negara hukum, pendidikan, zakat, dan kebebasan beragama justru diadopsi Orde Baru—rezim yang pernah meminggirkan politik Islam.

Undang-Undang Zakat—hingga peran ulama dalam ruang publik—diformalisasi secara bertahap, lalu diteruskan secara normatif oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ini paradoks sejarah, tetapi nyata dan terdokumentasi dalam kebijakan negara.

Implikasi Masa Depan dan Pelajaran bagi Indonesia

Logo Majelis Ulama Indonesia (MUI). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan